Sunan Kalijogo Mencari Titik Ba'

Bismillahirrohanirrohim..........

Kisah ini sudah tidak asing lagi di Babat tanah Jawa, dikala seorang pemuda yang sedang menghentikan langkah sosok orang tua yang telah renta, yang bermaksud untuk merampas/merampok harta-nya. Dengan tenan dan tanpa ada-nya rasa takut si Tua Renta tadi bertanya:

Tua Renta : Apa yang engkau inginkan dari-ku wahai anak muda...???

Si Pemuda : Keluarkan hatra yang kau punya..!!!

Romo KH. Abdul Jalil Mustaqim

 

KH. Mustaqim bin Husain kalau dawuh kepada murid-muridnya kebanyakan memakai kalam kinayah , begitu juga dengan KH. Abdul Jalil Mustaqim. Menurut perkataan KH. Shadiq Muslih Al-Hajari, jika mendengarkan perkataan-perkataan KH. Mustaqim dan KH. Abdul Jalil Mustaqim, harus dengan berdzikir kepada Allah, supaya kita bisa memahami makna dari perkataan beliau tersebut, karena sumber-sumber perkataan beliau tersebut berasal dari asrarillah (dawuh sirri). Perkataan-perkataan tersebut antara lain:

Romo KH. Nur Huda Zainal Muttaqin

 Bismillahirrohmanirrohim...


Jiwa manusia pada asal-nya adalah "LATHIFAH ROBBANIYAH" (cahaya ketuhanan) yang sangat dekat sekali hubungan-nya dengan ALLAH SWT. Selalu memuji dan memuji karena yg di ketahui-nya hanya-lah ALLAH semata.

Abul Ma’ali Achmad Imam Charomain Al-Abdarie

 

Abul Ma’ali Achmad Imam Charomain Al-Abdarie yang biasa dipanggil dengan sebutan Syeh Achmad adalah pendiri pondok al-imdad yang beralamatkan desa Brumbungan Mranggen demak.

Pondok Pesantren Al-Imdad mengadakan acara rutinan mingguan majlis keramas pada malam rabu Ba’da Isya’ dengan agenda acara pembacaan Ratib Al-Athos, Maulid Nabi dan Asmaul Husna, juga diselingi dengan mutiara-mutiara hikmah dari kalam salafussholih.

Biografi singkat Syeikh Achmad

Beliau adalah putra ke dua dari Syeikh Abdurrahman bin Ahmad Badawi dengan Masbakhatul Khoir binti Syeikh Muslih bin Syeikh Abdurrahman bin Qoshidil Haq. Lahir di Syi’b Ali Makkah Mukarromah pada malam Jum’at Wage tanggal 23 Sya’ban 1389  H ketika Abah beliu pulang dari majlis Maulid Nabi yang dipimpin oleh Al-Arif Billah Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki, semenjak kecil beliau diasuh dan dididik oleh orang-orang yang sholeh. Diantara guru-guru beliau yaitu :

1. Al-Arif Billah Assyeikh Hamid Pasuruan.
2. Al-Arif Billah Assyeikh Hamid Kajoran.
3. Al-Arif Billah Assyeikh Muslih Mranggen.(kekek beliau)
4. Al-Arif Billah Assyeikh Abdurrahman Badawi.(Abah Beliau)
5. Al-Arif Billah Al-Habib Zein Bin Smith.
6. Al-Arif Billah As-Sayyid Muhammad Al-Maliki.
7. Al-Arif Billah Al-Quthb Al-Habib Abdul Qodir.
8. Al-Arif Billah Al-Habib Salim As-Syathiry.

Mereka semua adalah guru-guru beliau yang sangat alim dan arif billah bahkan ada sebagian orang yang mengatakan bahwa guru-guru beliau termasuk waliyulloh. Beliu mendalami ilmu agama mulai sejak masih kecil dengan didikan orang tua dan kakek beliau.

Riwayat Pendidikan
 
1. TK Futuhiyyah Mranggen Demak (1983).
2. MI Futuhiyyah Mranggen Demak (1984-1989).
3. Ponpes Bendo Pare Kediri (Romadlon 1988).
4. Ponpes Al-Falah Kediri (1989-1990).
5. Ponpes Bustanul Unsyaqil Qur’an (BUQ) Betengan Demak (1991-1994).
6. Ponpes Al-Falah Kediri (Lulus 1995-1999).
7. Ribath Al-Jufri Madinah Munawwaroh (2000-2003).
(Al-Habib Al-Faqih Zain Bin Ibrohim Bin Smith).

pada tanggal 25 Romadhon 1417 H (1996 M) beliau dibaiat thoriqoh qodiriyyah wan naqsabandiyah pada usia 18 tahun.  kemudian beliau dibaiat sebagai khalifah qubro thoriqoh qodiriyyah wan naqsabandiyah pada tanggal 11 Muharram 1421 H (1999 M) pada usia 21 tahun oleh abah beliau Syeikh Abdurrahman Bin Ahmad Badawi.   Sedangkan untuk Thoriqoh Alawiyah sanadnya mengambil dari Al-Habib Zain  Bin Ibrohim Bin Smith Ba’alawi.

Al Mukarrom Syeh Abdurrohman Ahmad Badawi

Bismillahirrohmanirrohim............. 

Demak

Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Pengasuh Pondok Pesantren Futuhiyyah, Suburan, Mranggen, Demak, KH Abdurrahman bin Ahmad Badawi (62), Kamis dini hari kemarin meninggal dunia. Menurut KHM Hanif Muslih Lc, almarhum sempat dirawat beberapa hari di RS Telogorejo karena sakit. 

Ribuan pentakziah dari berbagai daerah di Jateng berdatangan memberikan penghormatan terakhir. Mereka sebagian besar adalah para santri alumnus pondok pesantren itu, jamaah Tarekat Qadiriyah Naqsabandiyah An-Nahdliyyah, pejabat, dan masyarakat serta keluarga Kiai Muslih Abdurrahman. Saking banyaknya pelayat, sepanjang jalan raya Suburan mulai dari Pasar Mranggen hingga depan kantor kecamatan ditutup untuk umum. "Kami merasa sangat kehilangan, karena belum satu bulan pengasuh Pondok Futuhiyyah yang juga pengasuh Pesantren Al-Mubarok KH Mahdum Zain juga meninggal dunia," tutur Gus Kim. 

Jenazah disalati di Masjid Pesantren setelah salat zuhur dipimpin Gus Kim. Kemudian dimakamkan di kuburan keluarga sekitar 30 meter dari rumahnya. Anehnya, saat jenazah Syeh Dur, panggilan akrab KH Abdurrahman, disalati, tiba-tiba datang angin lisus yang sangat kencang. Angin itu nyaris menerbangkan tenda-tenda. Beberapa pohon kelapa bergoyang-goyang dan debu-debu beterbangan. Angin lisus itu bertiup hanya di sekitar masjid hingga makam. Di pemakaman, doa talkin dipimpin KH Fadhol dari Sangkalwadak dan tahlil oleh Imam Masjid Agung Demak KH Muzayyin. 

Menurut sepupunya, KH Hamdan bin Abdul Muchiyat Ar-Rofii, KH Abdurrahman yang kelahiran Kampung Kembangan, Bintoro, Demak, tahun 1944, mengaji pada ayahnya, KH Ahmad Badawi. Dia juga sempat mondok di Pesantren Al-Islah Lasem di bawah asuhan Syeh Masduki dan mengaji pada KH Hamid Pasuruan. Pada tahun 1974 pindah ke Suburan Mranggen setelah menyunting Hj Masbachatul Choir, putri ragil KH Muslih. Dia meninggalkan seorang istri dan 13 anak. 

Menurut Kiai Ahsan Fahmi Chamid, pengasuh Pesantren Al-Ikhsan Maos Cilacap, Syeh Dur dikenal berperilaku khoriqul adat (di luar kebiasaan-Red). "Kekuatan beliau pada ilmu hikmah luar biasa dan diakui banyak orang," kata Ahsan.

Syeikh K.H Muslih Abdurrahman

 

Perintis Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh di Indonesia

Syeikh K.H Muslih Abdurrahman adalah ulama allamah yang pernah mengasuh pon-pes Futuhiyyah Mranggen sejak tahun 1936-1981 Masehi. Beliau sangat berjasa dalam mengembangkan dan membesarkan pon-pes Futuhiyyah Mranggen brkat fodlol dan rahmat Allah s.w.t hingga dapat melahirkan banyak kiai dan ulama yang terbesar di Jawa khususnya di Indonesia umumnya.

Beliau berjasa pula dalam menyebarkan thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah di Jawa / Indonesia, hingga melahirkan banyak Kiai dan Guru Mursyid Thoroqoh tersebut. Disamping berjasa sebagai salah seorang pendiri dan salah seorang Ro’is Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh Al-Mu’tabaroh di Indonesia yang di kenal sekarang dengan jam’iyyah ahlith Thoriqoh Nahdriyyah itu beliau juga ikut aktif mengembangkan dan membesarkan Jam’iyyah tersebut hingga akhir hayat pada tahun 1981 Masehi.

Oleh karena itu beliau dapat disebut sebagai Abul Masyayekh dan Syeikhul Mursyidin. Ghofarollohu wa Rohimah wa Qoddasallohu Asroroh wa yamidduna bi asrorihi wa barokati wa ulumihi wa karomatihi wa maunatihi wa syafa’atihi wa jami’i ahli silsilatihim wa usuluhim wa yulhiquna bihim fi khoirin wa sa’adatin wa salamah. Allahumma amiin.

Beliau berjasa pula dalam mengusir penjajah Belanda dan Jepang, baik anggota lasyikar hizbulloh yang berlatih kemiliteran bersama Syeikh K.H Abdulloh Abbas Buntet Cirebon dalam satu regu di Bekasi Jawa Barat dan menjadi komando pasukan sabilillah yang beranggotakan para kiai/ulama’ di wilayah Demak selatan atau front Semarang wilayah Tenggara.

Beliau wafat dan di makamkan di ma’la Makkah al Mukarromah di pemakaman yang kebetulan berdampingan dengan makam Sayyidatina Asma’ binti Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a, dekat/di depan kompleks makam Sayyidatina Khodijah r.a, istri Rosulillah s.a.w. Jama’ah haji Indonesia dari Mranggen dan Demak banyak yang ziarah kepada beliau dengan bantuan mukimin setempat. Beliau wafat pada bulan syawal 1981 Masehi, dengan mewariskan pon-pes Futuhiyyah yang besar untuk di lestarikan dan di kembangkan lebih lanjut. Al-hamdulillah pon-pes Futuhiyyah Mranggen tetap lestari dan berkembang hingga saat ini. Semoga demikian seterusnya hingga akhir masa. Amin Allahumma Amiiin.

1. RIWAYAT HIDUP dan KELUARGA

Syeikh K.H Muslih bin Syeikh K.H Abdurrohman dan Hj. Shofiyyah, asli/kelahiran suburan Mranggen Demak ,pada tahun 1908 Masehi. Beliau adalah adik kandung dari Syeikh K.H Ustman bin Syeikh K.H Abdurrohman.

Dari Ayah :
Muslih bin Abdurrohman din Qosidil haq bin R. Oyong Abdulloh Muhajir bin Dipo Kusumo bin P.Wiryo Kusumo / P.Sedo Krapyak bin P.Sujatmiko atau Wijil II / Notonegoro II bin P. Agung atau NotoProjo bin P.Sabrang bin P. Ketib bin P. Hadi bin K. S. Kali jogo,hingga Ronggolawe adipati Tuban I atau Syeikh Al-Jali / Syeikh Al-Khowaji, yang berasal dari Baghdad keturunan Saayyidina Abbas r.a paman Rasulullah s.a.w.

Dari Ibu :
Muslih bin Shofiyyah binti Abu Mi’roj wa binti Shodiroh hingga bersambung pada ratu Kalinyamat binti Trenggono Sultan Bintoro Demak II bin Sultan Bintoro I / R. Fatah bin R. Kertowijoyo / Darmokusumo Brawijaya I Raja Majapahit.
Ratu Kalinyamat istri Sultan Hadliri yang berasal dari Aceh dan menjabat sebagai adipati Bintoro Demak di Jepara. Sedangkan istri Sultan Trenggono adalah puteri K. S Kalijogo dan istri Sultan Fatah / Ibu Sultan Trenggono adalah putri K.S Ampel Surabaya, Dzuriyyah Rasulullah s.a.w.

Syeikh K.H Muslih Abdurrahman menikah dengan Nyai Marfu’ah binti K.H Siroj dan berputra :

- Al Inayah, istri Syeikh K.H. Mahdum Zein.
- K.H. M.S. Luthfi Hakim Muslih Bc.Hk sebagai pengasuh utama I pon-pes Futuhiyyah sejak tahun 1971 Masehi.
- Faizah, istri Syeikh K.H. Muhammad Ridhwan.
- K.H Muhammad Hanif Muslih L.c sebagai pengasuh utama II pon-pes Futuhiyyah sejak tahun 1985 Masehi.
- Putra-putra lainnya meninggal sejak kecil.

Setelah Nyai Marfu’ah wafat tahun 1959 Masehi, Syeikh K.H. Muslih Abdurrohman menikah lagi dengan Nyai Mu’minah Al-Hafidhoh / Al-Hamilah bin K.H. Muhsin ( ayah K.H. Muhibbin Al-Hafid, pengasuh pon-pes Al-Badriyyah Mranggen ) dan berputra :

- Qoni’ah istri K.H. Masyhuri, B.A.
- Masbahah, istri Syeikh K.H Abdurrahan Badawi / Syeikh Dur.

Setelah Nyai Mu’minah wafat pada tahun 1964 Masehi, Syeikh K.H Muslim Abdurrahman menikah lagi dengan Nyai. Sa’adah binti H. Mahhmud, Randusari Semarang sampai sekarang beliau masih hidup, semoga thowil umur allah husnil khotimah fi tho’atillah fil alwi wal afiyah wassalamah was sa’adah fi daruun-min fadllillah wa rohmatillah Allahuma amiin.Begitu pula keluarga dan dzuriyyah syeikh K.H muslih, bani Abdurrohman dan para santri dan alumni pon-pes Futuhiyyah Mranggen dan cabang- cabangnya, para muhibbin beliau beliau erikut para pejuang Fi Sabillillah termasuk K.Habdurrahman Wahid (GUS Dur Presiden R.I ) dan keluarga masing-masing. Allahumma amiin.

2. PENDIDIKAN Syeikh K.H. Muslih bin Abdurrahman

Pendidikan Syeikh K.H. Muslih bin Abdurrahman, diperoleh dari :

1. Belajar pada orang tua sendiri, yaitu Syeikh K.H. Abdurrahman bin Qosidil Haq.
2. Belajar di pondok pesantren termasuk madrasahnya Syeikh K.H. Ibrohim Yahya Brumbung Mranggen, disamping belajar pula saat pergi Haji bersama beliau.
3. Belajar di pondok pesantren Mangkang kulon.
4. Belajar di pondok pesantren Sarang Rembang milik Syeikh K.H. Zuber dan Syeikh Imam, di sini beliau sambil belajar / santri kalong kepada Syeikh KH Ma'shum Lasem, Rembang.
5. Belajar-mengajar di pondok pesantren Termas Pacitan.
6. Belajar ilmu thoriqoh dan bai’at mursyid di banten yaitu Syeikh Abdul Latif Al- Bantani
7. Belajar kepada Syekh Yasin Al Fadani Al- Makky di Mekah.
8. Belajar ilmu Ekonomi dan dagang.
9. Belajar ilmu kemiliteran.

Dari hasil pendidikannya tersebut Syeikgh K.H.Muslih bin Aburrahman termasuk Ulama’ Allamah Ahli ilmu-Kalam Bahasa Arab (Nahwu, Shorof, Balaqhoh, hingga ilmu Mantiq dan Arudh) Ahli Ilmu-Klam /Tauhid., Ahli Ilmu Tasawwuf –Ahli Ilmu Thoriqoh Mu’tabaroh hingga ahli pula dalam Ilmu Kepemimpinan Ilmu Kependidikan, Ilmu Siasah, Ilmu Hikmah Ilmu Jihad fi sabillillah termasuk Ilmu Kemiliteran. Oleh ksrns itu beliau sangat pantas menjadi Guru Mursyid Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah Bahkan menjadi Syeikhul Mursidin atau guru para mursyid, sebab beliau telah memenuhi peryaratan sebagai guru Guru Mursyid sebagai mana yang dianjurkan oleh syyaidina Syeikh Abdul Qodir Al –Jaelani, r.a, yang mana seorang mursyid itu seharusnya :

1. Memiliki Ilmu Ulam’ ( Ahli Agama Islam )
2. Memiliki Ilmu Siasah ( Politik Pemerintahan )
3. Memiliki Ilmu Hikmah ( Kebijaksanaan Ahli Hukum Islam )

Syeikh K.H. Muslih teryata belajar dan mengajar sebagaimana tersebut dalam manaqib As-Syeikh Abdul Qodir Al-Jaelani r.a, yaitu Tafsir dan ilmu Tafsirnya, Hadist dan ilmu Muthola’ah Hadistnya ilmu fiqh dan Hilafayahnya, ilmu Usuluddin ( ilmu kalam ) dan ilmu Ushulul Fiqh, ilmu Qiro’ah / Tawid, ilmu Nahwu, ilmu Shorof, ilmu Ma’ani, ilmu Bayan Badi’, ilmu arudl, ilmu Qowafi, ilmu Matiq dan ilmu tasawwuf / ilmu Thoriqoh. Ilmu – ilmu tersebut semuanya diajarkan di pon-pes madrasah, kecuali ilmuthoriqoh / ilmu Tasawwuf. Disamping ilmu-ilmu tersebut Syeikh K.H. Muslih Abdurrohman diwaktu mudanya juga rajin belajar ilmu-ilmu kanuragan dan ketabitan Islamy maupun do’a-do’a / aurrod yang khusus, tersasuk aurod khusus untuk memdapatkan Ilmu yang bermanfa’at lagi barokah. Ilmu yang manfa’at ialah ilmu yang dapat diamalkan sendiri ( dirinya dapat beribadah billah sesuai dengan ilmu yang diperolahnya, sebab fadlol dan rhmat Allah s.w.t ).

Sedang ilmu yang barokah ialah ilmu yang sudah dapat ditularkan kepada orang lain, baik melalui pendidikan dan pengajaran maupun nasehat, baik secara langsung maupun tidak langsung ( melalui tulisan dalam buku / kitab yang disusun, digandakan dan dibaca oleh orang lain ). Selain belajar ilmu-ilmu tersebut beliau sempat belajar bagaimana cara mengajar yang baik ( guru yang berhasil ) dan bagaimana menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran sistem klasikal ( madrasah ) saat beliau mondok di Termas, Pacitan. Sebelum beliau di Termas, sepulang dari pondok Sarang beliau bersama kakaknya, yaitu Syeikh K.H. Utsman bin Abdurrohman sempat belajar dagang pakaian jadi di pasar Mranggen,selama satu tahun, atas perintah orang tuanya agar merasakan bagaimana susahnya orang bekerja mencari rejeki ( dalam setahun kerja, teryata tidak laba dan tidak rugi ) setelah itu beliau berangkat ke Terma memenuhi perintah Syeikh K. H. Maksum Lalem sekalian ingin menambah ilmu dan pengalaman.

3. KARYA dan JASA Syeikh K.H. Muslih Abdurrohman

Syeikh K.H. Muslih Abdurrohman selain berjuangan demi terwujudnya suatu pribadi yang baik serta menjadi ulama pejuang islami, ternyata beliau juga berjuang fisabilillah di sisi yang lain, yaitu :

1. Menjadi pengasuh pendidikan pesantren, termasuk Pengajian dan Bai’at Thoriqoh Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah .
2. Mendirikan / menyelenggarakan Pendidikan Masdrasah/ Sekolah Futuhiyyah
3. Menjadi Pengasuh Utama Pon-Pes Futuhiyyah
4. Memperluas lokasi / Areal Pondok Pesantren
5. Merehab dan membangun Prasarana Pondok Pesantren, termasuk membangun Masjid An-Nur dikonplek Pon-Pes Futuhiyyah.
6. Menjadi Anggota Pengurus G.P Ansor Mranggen dan Lasykar Hizbullah Mranggen
7. Menjadi Pengurus Jam’iyyah N.U
8. Menjadi Komandan Barisan Sabilillah, sektor Semarang Timur.
9. Ikut Mendirikan dan menjadi pengurus Jam’iyyah Thoriqoh Mu’tabaroh Indonesia.
10. Mendirikan dan menjadi Pengurus Jam’iyyah Thoriqoh Nahdiyyah
11. Mendirikan Madrasah Aliyah Persiapan F.H.I UNNU Mranggen
12. Mendirikan F.H.I UNNU Fikal Surakarta di Mranggen
13. Mendirikan atau menyelenggarakan Madrasah dan Sekolah Formal.


4. KISAH TELADAN Syeikh K.H Muslih Abdurrahman

Sebelum Syeikh K.H. Muslih mondok kembali di Pondok Pesantren Termas, beliau sempat mukim dirumah yaitu Suburan Mranggen kira-kira pada tahun 1931 Masehi selama satu tahun, setelah kembali dari mondok di Pondok Pesantren Sarang.

Pondok Pesantren yang telah direhabilitasi pada tahun 1927 Masehi, atas perintah Syeikh K.H. Abdurrohman, telah berhasil menampung puluhan santri, namun aktifitas Madrasah tersebut menjadi berhenti, setelah diminta oleh N.U cabang Mranggen . Akhirnya Syeikh K.H. Muslih berusaha mendirikan kembali Madrasah Diniyyah Awaliyyah Futuhiyyah di konplek Pon-Pes Futuhiyyah dengan tikat tidak boleh diminta oleh N.U lagi. Jika N.U ingin mengelola Madrasah lagi supaya mendirikan sendiri. Selang beberapa waktu, Pon-Pes Futuhiyyah mendirikan Madrasah dua kali pada tahun 1927 dan 1929 Masehi. Selama dua kali mendirikan, dua kali pula diminta oleh N.U. Cabang Mranggen dengan cara Bedol Madrasah, Murid dan Gurunya di pindah tempat, yang kemudian dikelola oleh N.U Cabang Mranggen dan dua Kali pula terhenti.

Setelah Madrasah yang didirikan oleh Syeikh K.H. Muslih berjalan lancar, satu tahun kemudian diserahkan oleh adik beliau, yaitu Syeikh K.H. Murodi setelah mukim kembali dari mondok di Lasem dan para gurunya, dengan pesan agar tak boleh dipindah lagi, karena beliau akan Mondok lagi ke Termas. N.U. cabang Mranggen, akhirnya mendirikan sendiri Madrasah Diniyyah Awaliyyah dan dapat hidup hingga sekarang, di Kauman Mranggen, yang dikenal kemudian dengan nama Madrasah Ishlahiyyah.

Syeikh K.H. Muslih saat datang di Termas, langsung diminta oleh Syeikh K.H. Ali Maksum (Krapyak Yogya), selaku kepala Madrasah di Termas saat itu, untuk mengajar kelas di ajar oleh Syeikh K.H. Ali Maksum (kelas Alfiyyah Ibnu Malik). Semula Syeikh K.H. Muslih menolak, dengan alasan belum mampu mengajar Alfiyyah. Beliau tetap dipaksa dan dibujuk dengan kata-kata nanti saya ajari oleh Syeikh K.H. Ali Maksum. Setelah itu, Beliau akhirnya bersedia. Namun Ternyata Syeikh K.H. Ali Maksum hanya sekali mengajar Syeikh K.H. Muslih sebagai persiapan mengajar Alfiyyah, yaitu pada malam sebelum esok harinya mengajar, laalu beliau menghilang.

Dengan berat hati Syeikh K. H. Muslih mengajar dikelas yang ditinggalkan Syeikh K.H . Ali Maksum. Dan kira-kira setengah bulan kemudian, Syeikh K.H. Ali Maksum Baru muncul dan bertanya kepada murid – murid kelas tersebut, bagaimana hasil kerja Ustadt baru, murid-murid menjawab baik dan puas, setelah itu Syeikh K.H. Muslih di tetapkan guru kelas tersebut.

Suka duka Syeikh K.H. Muslih tidak menghalangi untuk berenovasi menjadi guru yang baik dan ini terbukti saat dimana santri-santri senior yang ada di Termas tidak disuruh mengajar, justru santri barunya yang disuruh mengajar, yaitu Syeikh K.H. Muslih, maka oleh santri-santri senior tersebut, kursi tempat duduknya di rawe ( diberi bulu buah rawe agar gatal-gatal, hingga tidak jadi mengajar ). Dengan berbekal Ilmu yang lebih luas dan pengalaman selama menjadi guru madrasah Tsanawiyyah di Termas itulah akhirnya Syeikh K.H. Muslih pulang dan mukim kembali di Suburan Mranggen kira-kira pada tahun 1935 Masehi, dengan tekad akan mengembangkan pondok pesantren Futuhiyyah Suburan Mranggen. Dan Al-Hamdulillah pada tahun 1936 Masehi berdirilah Madrasah Ibtida’iyyah yang bukan M.I, karana pelajarannya sudah setingkat dengan Madrasah Wustho dan Madrasah Tsanawiyyah yang diselenggarakan pada pagi hari.

Mengenai bagaimana tekhnis pengumuman P.M.B yang dilakukan saat itu, sementara saat itu tidak ada radio, tidak ada stensil, tidak ada mesin tulis apalagi fotocopy, tetapi yang jelas, madrasah tersebut penuh dengan murid dan pondoknya semakin banyak jenis santri mukimnya, baik yang berasal dari desa-desa wilayah kecamatan Mranggen dan sekitarnya hingga Gubug-Purwodadi, hal ini terjadi karena tersiarnya berita bahwa di pondok Suburan Mranggen telah muncul Kiai yang alim.

Sesudah tahun 1950 Masehi pon-pes Futuhiyyah semakin berkembang santri mukimnya semakin bertambah ( antara 300 – 400 orang ), di samping santri lajo yang masih belajar di madrasah maupun sambil mengaji wetinan, berikut datangnya santri pengajian thoriqoh yang dibuka mulai tahun 1950 Masehi. Adapun penyebabnya adalah bervariatif, mungkin Syeikh K.H. Muslih dikenal sebagai Kiai yang enak ngajinya, atau karena adanya aktivitas da’wah dari para mubalighin, termasuk Syeikh K.H. Abdul Hadi yang malang melintang berda’wah seantero Jawa Tengah,dan sebagainya.

Singkatnya, apa yang telah terwujud itu adalah fadlol dan rohmat Allah s.w.t. yang harus diyakini berkat syafa’at ahli silsilah Ilmu Islami aurod mujahadah dan riyadloh, termasuk dzikir thoriqoh, khususnya Syeikh K.H. Ibrohim. Yahya Brumbung, Syeikh K.H. Abdurrohman wa ushulih, Syeikh K.H. Hadi Giri Kusumo, Syeikh Abu Mi’roj Sapen, serta para auliya’-syuhada’ tanah Jawa hingga Walisembilan dan K.S. Fatah beserta pengikutnya, Syeikh Abdul Qodir Al0Jaelani r.a dan ahli silsilahnya hingga Rasulullah s.a.w.

Syeikh K.H. Muslih Abdurrohman selaku pimpinan / pengasuh pon-pes Futuhiyyah harus berjuang pula mencukupi kebutuhan Prasarana dan Sarana pondok pesanten termasuk keperluan dalam menyelenggarakan madrasah, seiring pribadi beliau menggerakkan pulapartisipasi aktif dalam pembangunan pondok pesantren futuhiyyah baik dari santrinya, para wali santri maupun masyarakat baik dalam bentuk sumbangan tenaga, material maupun uang. Adapun sumber – sumber yang lain berasal dari sumbangan pemerintah.

Pada masa hidup beliau, partisipasi santri besar sekali dalam pembangunan pondok pesantren Futuhiyyah, sebagai pengalaman ilmu, ikut andil dalam jariyyah, bersatu dan bergotong royng secara ikhlas merealisasi program pembangunan sekaligus nyadong berkah dari Allah s.w.t. Untuk keperluan hidupnya di dunia dan akhirat kelak.
Biyasakno, Kulinakno, Pangucapmu, Tindak Tandukmu Podo Karo Karepe ATI-mu.